Nasi putih berbungkus santan gurih yang menjadi jiwa sarapan pagi Jakarta. Sederhana, tapi tak tergantikan.
Nasi uduk lahir dari perpaduan budaya Betawi dengan pengaruh Melayu dan Arab yang sudah mengakar di Jakarta sejak abad ke-19. Kata "uduk" dalam bahasa Betawi berarti "bungkus" atau "campur aduk" — merujuk pada cara nasi dibungkus daun pisang bersama lauk-pauknya.
Awalnya, nasi uduk merupakan hidangan sederhana pekerja pelabuhan Sunda Kelapa. Beras yang dimasak dengan santan, daun salam, serai, dan garam menjadi bekal praktis yang mengenyangkan sepanjang hari. Dari pinggiran pelabuhan, aromanya yang menggoda menyebar ke seluruh penjuru kota.
Kini nasi uduk bukan sekadar sarapan — ia menjadi simbol kehangatan khas Jakarta. Setiap sudut kota punya versinya sendiri, dari kaki lima pinggir jalan hingga restoran premium di Sudirman.
Enam tempat nasi uduk paling ikonik di Jakarta, dari warung kaki lima hingga kedai bersejarah.
Nasi uduk baru permulaan. Masih ada Soto Betawi, Kerak Telor, Gado-gado, dan puluhan hidangan lainnya yang menunggu.
Jelajahi Nusantara
Indonesia kaya akan kuliner. Temukan makanan khas dari berbagai daerah lainnya.
Dari Babi Guling hingga Rica-Rica — nikmati kekayaan rasa Nusantara 🇮🇩